Senin, 13 Januari 2014

KEPEMIMPINAN OTORITER DIDALAM SEBUAH ORGANISASI

NAMA           : FIRMINUS
NIM                : 2012210028
PRODI           : ILMU ADMINISTRASI NEGARA
MK                 : MET. PEN. ILMU ADMINISTRASI NEGARA & POLITIK
SMESTER     : 3 (Tiga)

“Kepimemimpin otoriter didalam sebuah organisasi”
ABSTRAK
Persoalan kepempinan selalu memberikan kesan yang menarik. Literatur-Literatur tentang kepimpinan senantiasa memberikan penjelasan bagaimana menjadi pemimpin yang baik, sikap, dan gaya yang sesuai dengan situasi kepimpinan dan syarat-syarat pemimpin yang baik. Suatu organisasi akan berhasil atau bahkan gagal sebagian besar ditentukan oleh kepimipinan. suatu ungkapan yang mulia mengatakan bahwa pimpinanlah yang bertanggung jawab atas kegagalan pelaksanaan suatu pekerjaan. hal ini menunjukan bahkan suatu ungkapan yang menundukan posisi pemimpin dalam suatu organisasi pada posisi yang terpenting. Demikian juga pemimpin dimanapun letaknya akan selalu mempunyai beban untuk mempertanggung jawabkan kepimipinanya.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskritif menggunakan pendekatan kuantitatif yang menekankan analisisnya pada data-data yang bersifat numerikal (angka) serta penggunaan metode statistika dalam pengeolahan data baik statistika deskriptif untuk menyajikan data maupun statistika inferensial dalam menguji hipotesis. menurut penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan secara sistematik dan akurat mengenai fakta dan karekteristik mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu, penelitian ini berusaha untuk menggambarkan situasi atau kejadian dan sifatnya deskriptif yang tidak perlu penjelasan, pengujian dan predeksi variabel penelitian.
Kepemimpinan otoriter hanya tepat diterapkan dalam organisasi yang sedang menghadapi keadaan darurat karena sendi-sendi kelangsungan hidup organisasi terancam, apabila keadaan darurat telah selaesai gaya ini harus segera ditinggalkan. Dalam kepemimpinana otoriter ini cepat dan tegas dalam membuat keputusan, dan bertindak sehingga produktivitas cepat dan meningkat. Namun suasana kaku, tegang, mencekam, menakutkan, ketidak puasan, merusak moral, meniadakan inisiatif, menimbulkan permusuhan, agresivitas, keluhan, absen, pindah dan tidak puas.